DetaLova

  1. *Karya Cinta*

    tak ada karya seindah lukisan rasa, yang mampu mengubah dunia menjadi hamparan surga, tempat bernaung bagi jiwa yang tengah di mabuk cinta, menggelar segala mimpi-mimpi indah ke dalam wujud nyata, menyatukan dua hati dengan bingkai senyum bahagia, abadi selama-lamanya

  2. P.U.Z.Z.L.E.S: Dia yang Berandai-andai dan Kau yang Tak Pernah Tahu

    poemnpoetry:

    Andaikan angin bisa membawamu pergi

    dan hilang dari peradaban,

    maka dia tak perlu risau akan perasaannya.

    Andaikan hujan bisa menghapusmu

    dan hanyut bersama serpihan kasihnya,

    maka dia tak perlu khawatir tentang keputusannya.

    Andaikan api membakar habis semua tentangmu

    dan jadi debu…

    (Source: puzzlesme)

  3. sajak 1/2 hati: ___ Untuk wanita yang sedang merindukan kenangan, Terdiam digenggam...

    sajakseparuhhati:

    ___

    Untuk wanita yang sedang merindukan kenangan,

    Terdiam digenggam jemari angan.

    Rona merah pipimu, seperti buah rindu.

    Yang mengendap bertahun-tahun, dan dihabiskan dengan melamun.

    Wahai wanita rona senja,

    Bahagiakah kamu dibuai masa lalu ?

    Berlindung di balik waktu,

    Menyendiri menyimpan…

    (via fa-untitled)

  4. dan lihatlah senja di angkasa masih terus tertawa dengan angkuhnya, mengamati serta mencari letak di mana anak manusia menyelipkan makna, dari berjuta aksara yang hilir mudik melintasi lini masa, terselubung oleh pekatnya jalinan asa yang tak kasat oleh mata, berkelana tanpa pernah tahu di mana ia akan bermuara, tak seperti dirinya yang terus saja di nanti oleh belahan bumi lainnya

  5. bagai samudera yang bergejolak dengan gelombang pasangnya, saat purnama mulai bertahta di angkasa, seperti itulah rasa rindu yang menghuni ruang dalam dada, berlompatan kesana-kemari tanpa pernah berhenti untuk bergelora

  6. fa-untitled:

    Kadang aku tenggelam dalam dunia ku sendiri. Mengendap di dalam mimpi. Bermukim di tengah bumi yang ku cipta sendiri. Realita itu hanya lelucon di sini. Bagai sandiwara dan aku penonton satu-satunya. Tertawa dan bertepuk tangan seolah semua hanya drama.

  7. seperti rintik gerimis di penghujung senja, ia datang menyirami kuncup bunga di taman hati, namun belumlah sempat sang kuncup memekarkan kelopaknya, ia telah pergi di telan oleh gelapnya hari, meninggalkan sisa-sisa asa yang masih terlampau dahaga, tanpa pernah tahu kapan ia akan kembali lagi

  8. kadang cinta itu seperti metamorforsis ulat menjadi kupu-kupu, butuh perjuangan dan usaha yang ekstra keras, bahkan tirakat yang begitu luar biasa sebelum dirinya menjadi wujud yang begitu indah meskipun hanya mampu bertahan dalam hitungan hari, lalu mati

  9. bukankah kita pernah bermain pada labirin rasa yang sama, saling menerka-nerka hati yang kerap kali menyimpan berjuta misteri, kini aku mencoba melangkah dan tak lagi menuntut jawab dari segala tanya, sementara engkau masih terlalu sibuk mengurai asa yang terlanjur menjadi belukar penuh duri, sembari terus mengusap wajah manismu yang mulai penuh dengan tetesan air mata

  10. padamu aku pernah menafsir mimpi, menjadikan awan-awan di langit sebagai pijakanku mengitari bumi, menembus batas ruang dimana nyata dan maya seakan telah bersenyawa, menyatu dalam duniaku yang penuh dengan semburat warna, cinta, … . .